Pulang
Ketegori : Resensi Buku | Oleh : Nur Ismah, SIP. | Tanggal : 2016-04-04 15:57:24 | Dibaca : 220 Kali

      Pagi itu belasan orang turun dari mobilnya. Hanya mobil-mobil tertentu yang bisa melintasi desa kecil kami. Dan demi melihat mobil-mobil kecil tersebut, bapakku yang lumpuh berpegangan dan menyeret kakinya yang lumpuh satu untuk menyambut tamu istimewa dari kota.
Namaku Bujang, anak seorang Tukang jago pukul dan cucu dari tukang jagal yang tersohor. Aku mewarisi naluri ini, sehingga aku tidak memiliki rasa takut sama sekali terhadap apapun. Kisah bapak dan mamakku ternyata melalui  kisah yang panjang. Karena tidak ada restu dari keluarga Mamak, mengantarkan bapak menjadi tukang pukul seorang Tauke Besar di kota. Baru setelah bapak pensiun jadi tukang pukul kepercayaan, restu itu didapatkan. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Ternyata Bapak telah berjanji kepada Tauke untuk memberikanku pada mereka.
Pagi itu mobil-mobil itu bermaksud menjemputku. Saat itu telah tiba. Aku harus ikut. Mamak melepaskanku dengan berat dan berpesan agar aku tidak meminum dan memakan makanan yang haram.
Sungguh aku tidak takut sama sekali. Aku dibesarkan oleh keluarga Tauke dengan penuh perhatian dan fasilitas. Kini bisnis gelap Tauke sudah sangat besar dan terkenal hingga seluruh Asia. Inilah maksud dari Tauke. Pada saat awal aku di sini, aku mengira hanya akan dijadikan tukang pukul, tetapi bukan hanya tukang pukul biasa, tetapi tukang pukul yang berkelas.
Tauke adalah orang yang sangat ku hormati setelah orang tuaku. Untuk itu aku mempertaruhkan seluruh hidupku untuk melindungi keluarga ini dari berbagai macam ancaman. Walaupun kabar duka satu persatu aku dapatkan lewatr surat yang diberikan Tauke untukku. Itulah pertama kalinya aku merasa takut. Separuh hidupku hancur. Tetapi aku masih memiliki Tauke.
Berbagai macam bahaya dan ancaman datang pada Tauke. Kini umur Tauke sudah tidak lagi muda seperti dulu. Semua anak buah Tauke tahu kalau aku yang akan menggantikan posisinya. Ini tentunya tidak semudah yang direncanakan tentunya akan terjadi kekacauan dan pertempuran sengit untuk merebut kekuasaan. Pertemuran eksternal maupun internal. Pertempuran yang sangat keji.
    Lalu bagaimana Bujang bisa melewati ini semua? Bagaimana Bujang bisa melawan rasa sakit dan kebencian yang memenuhi dadanya?
    Tere Liye, penulis best seller mengemas cerita ini dengan sangat rumit dan menyentuh. Konflik batin terjadi dalam diri tokoh Bujang membuatnya menjadi sosok yang lebih bijaksana. Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan-demi pertarungan, untuk memeluk semua rasa sakit dan kebencian.
 

Kategori Artikel

Arsip Artikel

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler