Seminar Pendidikan Karakter Siswa
Ketegori : Kegiatan | Oleh : Ish Perpustakaan | Tanggal : 2019-05-16 00:00:00 | Dibaca : 1437 Kali

Momen hari pendidikan mengingatkan pada kita semua bahwa pentingnya ilmu bagi anak – anak bangsa ini sebagai generasi penerus yang memiliki tanggungjawab besar terhadap kelangsungan suatu bangsa. Namum perlu di ingat bahwa hendaknya bekal yang diberikan bagi generasi bangsa ini tidak hanya sekedar ilmu namun harus dibarengi dengan pembentukkan karakter yang berakhlak, sehingga menghasilkan generasi yang berpribadi kuat dan matang.  Bertepatan dengan momen tersebut  dalam  rangkaian semarak Hardiknas, UPT. Perpustakaan UMM  mengadakan Seminar Pendidikan Karakter Siswa tanggal 4 Mei 2019 diikuti  + 70 orang.   Peserta  merupakan guru mulai dari PAUD hingga SMA sederajat, tidak sedikit juga para mahasiswa calon guru yang mengikuti seminar tersebut.
Seminar dimulai pukul 08.00 WIB diawali dengan  sambutan dari Kepala Perpustakaan UMM Dr. Asep Nurjaman, M.Si dan  dilanjutkan Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang sekaligus membuka acara. Seminar bertempat di ruang sidang senat UMM dengan mendatangkan 3 keynote speaker yaitu Bapak Imam Budi Prasetiawan, SS., M.I.Kom. , Bapak Dr. Arif Budi Wuriyanto, M.Si., dan Ibu Dr. Iswinarti, M.Si.
Bapak Imam Budi Prasetiawan (Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia) dalam materinya memaparkan bahwa untuk memwujudkan generasi emas pada tahun 2045, maka generasi harus memiliki keterampilan di abad 21 ini, Keterampilan abad 21 ini yaitu: Kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi. Kualitas karakter yang harus dimiliki oleh para siswa sekarang yaitu religius, nasionalis, mandiri, integritas, gotong royong. Kemampuan literasi dasar yang harus dimiliki oleh generasi muda yaitu: literasi bahasa, sains, digital, numerasi, budaya dan kewarganegaraan. Selain itu, generasi muda juga harus memiliki kompetensi untuk berfikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.
Senada dengan yang disampaikan oleh Bapak Imam Budi Prasetiawan, Bapak Arif Budi Wuriyanto (Dosen FKIP UMM), juga memaparkan bahwa karakter itu sesungguhnya tidak diajarkan tetapi karakter itu harus ditanamkan dan diteladankan. (misalnya budaya mengantre di fasilitas umum). Kakakter itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang sudah tertanam dalam pikiran, hati, dan dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.  Ibu Iswinarti (Dosen FPsi UMM) menambahkan bahwa karakter bisa dibangun juga dengan melalui permainan tradisional anak-anak yang saat ini sudah mulai jarang dimainkan lagi sehingga dapat menghidupkan kembali khazanah budaya bangsa dan menanamkan beberapa nilai karakter yang baik untuk generasi muda. Melalui permainan, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan kemampuan emosi dan berpikirnya.
 

Kategori Berita

Arsip Berita

Berita Terbaru

Berita Terpopuler